Matematika merupakan salah satu bidang studi yang menduduki peranan penting dalam pendidikan. Banyak yang telah disumbangkan matematika untuk kemajuan peradaban manusia. Seperti yang diungkapkan oleh Erlangga (dalam Juliana, 2006:1) bahwa:
“Matematika sebagai ilmu dasar, memegang peranan yang cukup penting dalam banyak bidang ilmu terapan. Setelah sukses diterapkan dalam bidang astronomi dan mekanika, matematika telah berkembang menjadi alat analisis yang penting dalam bidang fisika dan juga engineering. Dengan demikian matematika telah menjadi komponen esensial dalam kegiatan hidup”.
Selain itu, tanpa bantuan matematika, maka semua ilmu pengetahuan tidak akan sempurna. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Nirwana (dalam Yanuarni, 2010:1) bahwa :
“Dalam perkembangan peradaban modern, matematika memegang peranan yang penting, karena dengan bantuan matematika, semua ilmu pengetahuan menjadi sempurna. Tanpa bantuan matematika, semua tidak akan mendapat kemajuan berarti”.
Namun tingginya tuntutan untuk menguasai matematika tidak berbanding lurus dengan hasil belajar matematika siswa. Pada kenyataannya hasil pembelajaran matematika masih memprihatinkan. Kenyataan yang ada menunjukkan hasil belajar siswa pada bidang studi matematika kurang menggembirakan.
Senada dengan hal diatas, Muhammad Nuh (http://www.suarakarya-online.com) mengemukakan bahwa:
“Sama seperti di tingkat SMA, angka kelulusan ujian nasional (UN) di sekolah menengah pertama (SMP) tahun 2010 juga jeblok alias turun cukup signifikan dibanding UN 2009, yaitu dari 95,05 % menjadi 90, 27 %. Siswa yang tidak lulus terbanyak di mata pelajaran matematika yakni 12,13 %, pelajaran bahasa inggris sebanyak 12,01 %, mata pelajaran IPA sebanyak 5,56 % dan pada pelajaran Bahasa Indonesia sebanyak 0, 86 %”
Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika siswa diantaranya adalah kurangnya minat siswa dalam mengikuti pelajaran matematika. Sebagian besar siswa kurang antusias menerimanya. Siswa lebih bersifat pasif, enggan, takut, atau malu mengungkapkan ide-ide ataupun penyelesaian atas soal yang diberikan guru. Tidak jarang siswa kurang mampu mempelajari matematika sebab matematika dianggap sulit, menakutkan, bahkan sebagian dari mereka ada yang membencinya. Hal ini menyebabkan siswa menjadi takut terhadap matematika. Akan tetapi ketakutan-ketakutan yang muncul dari siswa tidak hanya disebabkan siswa itu sendiri, tetapi juga oleh ketidakmampuan guru menciptakan situasi yang mampu membawa siswa tertarik dalam mempelajari matematika. Nurhalimah (2008:4) menyatakan bahwa :
“Matematika adalah mata pelajaran yang dianggap sulit dalam tiap pembelajarannya. Anggapan tersebut tidak terlepas dari persepsi yang berkembang dalam masyarakat tentang matematika yang dianggap sebagai ilmu yang kering, abstrak, teoritis, penuh dengan lambang-lambang dan rumus-rumus yang sulit dan membingungkan. Hal ini akan berdampak buruk terhadap hasil belajar matematika siswa. Maka dari itu seorang guru matematika harus terampil dalam penyelenggaran pembelajaran agar dapat menepis anggapan negative tentang belajar matematika.”
Peningkatan kualitas pendidikan matematika disekolah terhadap hasil belajar siswa tidak terlepas dari proses pembelajaran di kelas yang melibatkan interaksi antara guru dan siswa. Guru hendaknya memilih metode yang tepat dalam menyampaikan materi pelajaran. Hasrattudin (2004:46) menyatakan bahwa: ”Salah satu kelemahan metode yang digunakan guru terlihat dari proses belajar yang dilaksanakan guru dikelas adalah guru lebih aktif sebagai pemberi pengetahuan bagi siswa”
Dari kutipan di atas, maka perlu diterapkan suatu sistem pembelajaran yang melibatkan peran siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar guna meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa di sekolah. Hakim (2008 : 54) mengemukakan bahwa:
“Pembelajaran aktif adalah kegiatan mengajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan mata pelajaran yang dipelajarinya. Siswa lebih aktif mempelajari materi pembelajaran yang menyiapkan siswa untuk hidup, informasi yang diterima lebih lama diingat dan disimpan, dan lebih menikmati suasana kelas yang nyaman”.
Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran, dimana siswa bekerja dan belajar dalam kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 2-3 orang dengan struktur kelompok heterogen. Hakim (2008 : 54):
“Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran aktif yang menekankan aktivitas siswa bersama – sama secara kelompok dan tidak individual. Siswa secara berkelompok mengembangkan kecakapan hidupnya, seperti menemukan dan memecahkan masalah, pengambilan keputusan, berpikir logis, berkomunikasi efektif dan bekerja sama”.
Selanjutnya Asma (2006 : 12) menyatakan bahwa :
“Kegiatan siswa dalam belajar kooperatif antara lain mengikuti penjelasan guru secara aktif, menyelesaikan tugas – tugas dalam kelompok, memberikan penjelasan kepada teman sekelompoknya, mendorong teman sekelompoknya untuk berpatisipasi secara aktif dan berdiskusi”.
Ada beberapa tipe model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan dalam pembelajaran matematika, Frang Lyman dan koleganya di Universitas Maryland mengembangkan suatu jenis pembelajaran kooperatif yaitu tipe Think-Pair-Share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi. Tipe Think-Pair-Share (TPS) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas, dimana anggota dalam satu kelompok jumlahnya sangat kecil yaitu 2-3 orang (dalam isjoni 2009: 78). Teknik ini memberi siswa kesempatan siswa lebih banyak waktu untuk berfikir, merespon dan saling membantu, seperti yang dikemukakan Ibrahim, dkk (2000:26) bahwa: ”Teknik TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit ( tidak berbelit – belit ), siswa dapat bekerja secara mandiri serta bekerjasama dengan orang lain”.
Pembelajaran TPS (Think-pair-share) merupakan salah satu perubahan paradigma pembelajaran yang berorientasi pembelajaran semula berpusat kepada guru (teacher centered) beralih berpusat kepada murid (student centered); metodologi yang semula lebih didominasi ekspositori berganti ke partisipatori; dan pendekatan yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah menjadi kontekstual. Semua perubahan tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki mutu pendidikan, baik dari segi proses maupun hasil pendidikan. Dengan demikian, proses belajar akan lebih menyenangkan sehingga dapat meningkatkan pemahaman yang akhirnya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk SMP, pada sub pokok bahasan bilangan rasional berpangkat bilangan bulat, banyak siswa yang masih kesulitan menyelesaikan soal–soal bilangan rasional berpangkat bilangan bulat karena siswa sangat sulit memahami materi tersebut, kebiasaan siswa yang cenderung hanya menghafal rumus tanpa mengerti konsep menjadi penyebab kesulitan siswa. Seperti halnya di SMP Swasta Ar-Rahman Medan, sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal–soal bilangan rasional berpangkat bilangan bulat . Hasil wawancara dengan Ibu Ika salah satu guru matematika di SMP Swasta Ar-Rahman Medan pada tanggal 18 Agustus 2010 mengatakankan bahwa:
“Hasil belajar siswa dalam sub pokok bahasan bilangan rasional berpangkat bilangan bulat cukup rendah. Mereka kesulitan menyelesaikan soal–soal sub pokok bahasan bilangan rasional berpangkat bilangan bulat . Sebagian besar siswa tidak dapat menyelesaikan operasi perkalian, penjumlahan dan pengurangan pada pangkat rasional berpangkat bilangan bulat.
Selanjutnya pada tanggal 10 Januari 2011 dilakukan survei awal dengan cara memberikan tes kepada siswa kelas IX SMP Swasta Ar-Rahman Medan pada materi bilangan rasional berpangkat bilangan bulat. Dari hasil survei tersebut diperoleh bahwa hanya 5 orang atau 20% yang mencapai nilai KKM (nilai siswa 60), sedangkan siswa yang tidak mencapai nilai KKM berjumlah 20 orang atau 80%. Depdikbud (dalam Trianto, 2010:214) menyatakan bahwa setiap siswa dikatakan tuntas belajarnya (ketuntasan individu) jika proporsi jawaban benar siswa nilai KKM , dan suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya (ketuntasan klasikal) jika dalam kelas tersebut terdapat 85% siswa yang telah tuntas belajarnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk materi bilangan rasional berpangkat bilangan bulat, siswa kelas IX SMP Swasta Ar-Rahman Medan belum mencapai ketuntasan belajar.
Kesulitan belajar tersebut bukan hanya dari materi yang sulit, tetapi bisa juga karena cara atau pendekatan guru dalam menyampaikan materi pelajaran itu kurang efektif sehingga siswa tidak dapat menyerap dan menguasai materi yang diberikan dengan baik serta tidak menyukai pelajaran tersebut. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatife tipe TPS (Think-pair-share), diharapkan dapat mempermudah siswa dalam mempelajari konsep–konsep matematika. Siswa akan diarahkan untuk biasa bekerja, mengembangkan diri dan bertanggung jawab baik secara individu maupun kelompok. Persaingan yang positif akan terjadi di kelas dalam rangka pencapaian prestasi belajar yang optimal.
Selain itu, untuk menentukan apakah hasil belajar telah tercapai secara optimal adalah dengan menggunakan evaluasi. Seperti yang dikemukakan oleh Harjanto (1997 : 277) bahwa :
“Tujuan evaluasi pengajaran adalah untuk mendapatkan data pembuktian yang akan mengukur sampai dimana tingkat kemampuan dan keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan kurikulum/pengajaran. Dengan demikian evaluasi menempati posisi yang penting dalam proses belajar mengajar, karena dengan adanya evaluasi pengajaran ini ,keberhasilan pengajaran tersebut dapat diketahui.”
Metode yang digunakan dalam proses belajar matematika untuk mengetahui hasil belajar siswa, biasanya dilakukan dengan pemberian tugas tetapi sering ditemukan adanya siswa hanya mencontoh hasil kerja kawannya karena pada saat proses belajar mengajar siswa tersebut kurang memperhatikan dan malas mencatat. Oleh karena itu, guru harus mempunyai alat yang tepat untuk mengetahui kemajuan yang telah dicapai siswa.
Salah satu usaha yang dilakukan oleh guru adalah memilih alat yang tepat yaitu dengan bentuk pemberian tes di sela-sela pelajaran (Embedded Test) dengan demikian guru akan lebih cepat mengetahui materi yang belum dikuasai oleh siswa. Embedded Test ini diberikan pada siswa pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar yang disesuaikan dengan TPK (Tujuan Pembelajaran Khusus) sedangkan waktu pemberiannya tidak terduga sehingga diharapkan siswa benar-benar memperhatikan pelajaran yang diberikan dengan baik. Pemberian Embedded Test ini juga diharapkan dapat memotivasi belajar siswa dengan memperhatikan pelajaran yang sedang berlangsung, sebab siswa dalam hal ini dituntut untuk selalu siap mengikuti ujian pada waktu yang tidak ditentukan sehingga dapat meningkatkan hasil dan aktifitas belajar siswa khususnya mata pelajaran matematika.